Saturday, June 25, 2005

Lurus dan kelok

Bukan eselon teratas, tapi sebagai pegawai yang sudah puluhan tahun mengabdi pada suatu instansi pemerintah yang katanya mengatasnamakan kepentingan rakyat, Pak Soewondo merasa harus mengambil kesempatan tuk pensiun dini tahun ini, di umurnya yang ke 53.

Tradisi yang melekat di lingkungan kerjanya membuat Pak Soewondo menyerah. Dia enggan tuk makan hati dan ditekan dari atas pun bawah karena melakukan sesuatu yang benar menurut nuraninya. Tidak mungkin kekuatan satu orang dapat mengganti haluan satu kapal, kecuali dia adalah juru kemudi, atau kapten kapal itu sendiri.

Sudah puluhan tahun ia mencoba membelokkan suatu tradisi yang salah dimatanya, yang hanya alirkan jumlah dengan nominal enam dan angka satu di depannya ke dalam tabungannya, tentu setelah dipotong biaya A sampai X. Padahal nama besar dan bukan harum instansinya mengasumsikan orang-orang terhadap semua yang dimilikinya, dan mungkin masih ada banyak di belakang yang ditutupi, kata mereka.

Hanya Pak Soewondo dan keluarga yang tahu, mahalnya suatu kejujuran. Itu sebabnya keluarga Pak Soewondo mendukungnya tuk mengambil pensiun dini.

Karna pekerjaan dan penghasilan berbeda. Kita selalu punya pekerjaan, tapi tak selayaknya sebuah penghasilan membuat mental seseorang compang camping. Bila yang rusak tidak dapat didaur ulang, lebih baik kita buang daripada menambahkan beban.

Friday, June 10, 2005

Free (for loving, hoping, and having!)

Bicara kepemilikan, bicara kekuasaan, erat dengan kata me- dan di- zalimi. Siapa yang ajarkan premis itu berlaku umum? Siapa yang berani bilang saat ini juga bahwa kebebasan itu membebaskan? Aku telah menemukan bahwa kebebasan adalah beban berat. Mungkin aku hanya ingin dimiliki, seutuhnya atau tidak sama sekali.

ying and yang

My dearest nene, happy birthday sweets! Genap 6x ulang thn kita udah brg. Walau terpisah jarak tp kamu ttp sahabatku yang terbaik. Jgn pernah berubah ya sayang. I wish u all the best, panjang umur, cepet kelar kuliahnya, cepet blk ke jakarta utk brg d rahardjo’s, bobs, and your old socks =p LUV!!

Sms sent, 00:01 am

Thank you sayaaangg..!!Hmm blm genap 6x ti, br genap stlh tgl 18! Anyway, thanks for all those years of good times and friendship. You are truly my irreplaceable old socks! Hugs and kisses! Take care cins! Btw, sori blm sempet jwb msg, gue exam bsk. Abis bsk yaa. Daahh monyeett! Huhuhu...

Sms delivered, 10:30 am

Tidak ada yang diedit, di sisi debit maupun kredit. Luar biasa mendapatkan masih banyak orang sekitarku yang bisa begitu tepat memposisikan dirinya.

bestbuddy's birthday

Adriana Pramadhani..as always aku menunggu lewat jam dua belas malam, sekedar mengirim sms ke nomer handphone miliknya di NZ. Gosh, miss you so much ne..wish you all the best, my pair of old socks. Setelah dihitung rupanya telah enam ulang tahun kita lewati bersama, berharap tentu pada belasan atau puluhan lainnya, sampai-sampai kita harus diingatkan tahun berapa kita lahir.

Wednesday, June 08, 2005

X factor

Hidup luar biasaku. Entah di luar biasa itu baik atau tidak, pandangan siapa pula yang berhak menjustifikasi. Selalu kupakai kata badai, entah itu suatu bentuk pembelaan yang dewasa atau tidak. Seakan-akan itu diluar kuasaku, dan menunjuk musuh yang sebenarnya tak lain adalah aku sendiri, atau apa yang ada di dalam aku.

Terlalu banyak rencana penting dan mimpi yang tertunda. Sudah saatnya aku melanjutkan perjalanan dan kembali menapak dengan genggam tangan yang kuat menopang. Betapa luar biasa, meretas dari kejemuan yang tak lagi berbicara padaku.

Sunday, June 05, 2005

With a 'little' help from my friend

Kayaknya memang keliru besar kalo nyoba pake paradigma ekono-math thdp kebaikan hatimu. Kalimat itu mengguyur batin yang sempat merah meradang. Ah, ada yang bilang i'm a devil inside (pasti yang bilang pecinta beatles hahaha), tapi ada juga yang terang-terangan menyangkalnya. Toh siapa pun boleh berpendapat, dan aku tentu boleh memilih untuk mendengar mereka yang tak anonim.

Hidup selalu seperti roda, kadang di atas dan kadang di bawah. Kalau aku lebih suka menyebutnya kincir air..kenapa? Karena buatku baik di atas maupun di bawah, mereka fungsikan satu yang sama dan jelas terlihat, yaitu play their role. Mana kutahu tadi sore aku mendapat balasan yang luar biasa, thanks a lot renta buat ajaran akuntansi manajemennya. You're such a nice person.

Tuesday, May 31, 2005

Pemakaian kata 'sekedar' yang berbahaya

Pernah dengar, mulutmu harimaumu? Ya, memang kata adalah madu dan empedu, tergantung tangan (hanya bibir sebagai pembuktian lidah itu tak bertulang, atau kata ‘hati’) mana yang digunakan. Ada apa dengan kata, frase, kalimat, sampai-sampai orang begitu takut terhadapnya? Kata memang sangat luar biasa, sampai-sampai kutahu ada seseorang yang mematikan shoutboxnya hanya utk mencegah terror yang mulai menyebar terhadap orang-orang yang disayanginya. Walau hanya secara maya, tapi terlihat sekali betapa kata-kata mengganggu si peneror itu. Carpediem, haha..perdebatan yang seru, tapi boleh juga digunakan untuk hal yang satu ini. Toh menurutku manusia atau tidak, bisa jadi diukur dari kata-katanya. Dan tentu, bagaimana ia menepatinya.

Kata fauzan, ada orang yang bilang "oh, sekedar lumpuh ya dia?" hanya karena urusan berita. Tapi bahagia, karna aku berada di sekitar orang yang berkata 'sekedar' untuk cacatnya sendiri.

Monday, May 23, 2005

Menukar ingatan dengan maaf

Teman, untuk semua jasa baik dan kasih yang kau limpahkan, aku berterima kasih. Untuk semua guratan perih yang kau beri, sengaja ataupun tidak, aku pun berterima kasih. Karena kau telah menyadarkanku, bahwa seorang manusia tidak bisa menggantungkan kebahagiaannya pada orang lain. Kau telah membuka mata dan membuatku belajar, bahwa kepercayaan hanya datang sekali saja. Dan tentu setelah celaka akan ada degradatif sampai tuntas, tandas. Kau harus ingat, bahwa apa yang kuhapus, sama imbangnya dengan lebam yang ada padaku. Bukannya aku hendak melupakanmu, tetapi aku menyadari pentingnya kata maaf. Bukan hanya di mulut, tapi juga di hati dan fikir.

Closing book

Aku punya sahabat sejak SMP, sampai sekarang atau tepatnya sebulan yang lalu, kita masih saling mengisi dengan plus minus masing-masing. Hanya satu yang kurang dari persahabatan kami, yaitu komunikasi. Dia melihat aku yang sangat prinsipil sebagai seorang yang tidak mau mengerti seinci garis yang melenceng. Sedangkan aku melihatnya sebagai orang yang tidak bisa memegang kata-kata. Sering sekali terjadi bentrok, terutama tahun terakhir ini karena dia tidak menepati janjinya untuk hadir di event-event (ini jamak, bukan tunggal) terpenting hidupku. Dan itu pun tanpa pemberitahuan sedikit pun sebelumnya. Tapi ya namanya sahabat, masih bisa aku terima semua kekecewaan itu. Hanya satu yang membuatku sangat jengkel saat ini. Dia lebih memilih dekat dengan orang yang baru dikenalnya sekitar satu tahun, daripada aku. Tapi tunggu dulu, dengan keadaan yang tidak imbang sama sekali. Orang yang dekat dengannya itu adalah orang yang mengkhianati aku sebanyak lebih dari 3 kali. Dan tentu, sahabatku ini bersembunyi dalam topeng netral dengan ayat-ayat sucinya. Good luck, mate…tidak pernah tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya.

Pain III

Jangan kau hitung dari hari, minggu dan bulan!
Jangan kau hitung dari waktu dan masa!
Jangan kau hitung dari kuantitas!

Lalu bagaimana dengan senyum yang terserak sepanjang kisah kita? Literan tangis yang mengaca, menitik, hingga menghujan? Dekapan hangat kasih dan dekapan birahi? Kecup di kening, bibir, jenjang leher, dan seluruh inci kulit? Kebodohan, kekesalan, kemarahan, kesedihan, hingga maaf yang tak hanya keluar dari mulut? Ah, aku tak bisa tak menghitungnya…

Pain II

Lupakah? Pada senyum dan tawa di tepi pantai? Pada imaji indah yang kau tangkap, tak lain adalah cinta di mataku? Pada lelah betis dan terik menyengat sepanjang poppies street? Pada senggama luar biasa pada malam-malam dingin itu? Pada peluh yang membanjir dan tiada datangkan tengik sekalipun? Pada kaki tangan silang menyilang di bawah selimut khawatir? Pada janji yang tak perlu diucap itu? Pada sendja yang hanya milikmu?

Pain I

Jangan kau sia-siakan hati dia yang berserah setia jiwa raga. Jangan kau ambangkan rasa yang luar biasa menjadi bungkus kacang rebus. Jangan kau campakkan bagai koran bekas yang sudah lewat seminggu lalu. Jangan kau lukai aku, karena aku sesungguhnya ada dalam kau.